Selasa, 16 Juli 2019
Home > Berita Terkini > Waspadai Radikalisme vs Pancasila
Waspadai Radikalisme vs Pancasila
Ilustrasi

Waspadai Radikalisme vs Pancasila

Share

JAKARTA – Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center yang juga mantan aktifis NII mengungkap keberagaman konflik yang terjadi atas nama suku, agama, ras dan antar golongan terjadi karena nilai nilai Pancasila kian tergerus.

Persatuan dan kesatuan dicabik cabik sekelompok orang yang mengaku paling beragama dan merasa paling suci, kelompok itu tidak peduli dengan istilah pelangi yang indah karena beragam warna. Bagi kelompok radikal pilihan tidak banyak, begitupun tentang warna, hanya ada dua.

Kalau tidak hitam ya putih, kalau tidak benar ya salah, kalau tidak beriman ya kafir, kalau tidak beriman maka mendapat neraka dan hanya kelompok mereka saja yang diklaim akan masuk surga sementara kelompok lain di neraka.

Ken menyebutkan, ada pihak yang ingin kondisi persatuan dan kesatuan hari ini menjadi terpecah belah sehingga ada alasan untuk memojokan aparat dan pemerintah.

“Seolah olah aparat dan pemerintah gagal dalam memberikan rasa aman terhadap masyarakat, ujungnya adalah pergantian sistem menjadi negara Islam/ khilafah Islam,” ujarnya, Senin (8/7/19) malam.

Menurut Ken, ketimpangan ekonomi, penindakan hukum dan beragam masalah sosial kemasyarakatan serta budaya, sedikit banyak berkontribusi terhadap kejadian di akhir akhir ini.

Dirinya menyarankan, salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam merajut nilai-nilai Kebhinekaan adalah membangun kembali ruang-ruang toleransi dan keberagaman sejak dini agar tercipta suasana aman dan kondusif.

“Kita akan terus bersinergi dengan aparat dan pemerintah terutama kementrian dan lembaga terkait untuk terus melakukan pembinaan berkelanjutan khususnya pencegahan dini terhadap bahaya potensi konflik intoleransi, radikal dan terorisme dimasyarakat,” jelasnya memastikan.

Ditambahkannya, nilai-nilai persatuan dan kesatuan dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari dengan saling menghormati keberagaman suku dan agama serta bisa menghargai pendapat masyarakat.

“Jadikanlah perbedaan sebagai kekayaan, dan perbedaan dapat disatukan dengan semangat persatuan dan kesatuan sehingga akan menciptakan kerukunan antar masyarakat dan umat beragama,” tegasnya.

Seperti konsep pelangi yang walaupun berbeda beda warna, ketika beriringan maka akan menjadi indah. Ken menambahkan, generasi muda rawan direkrut karena masih labil sehinga mudah terpengaruh paham radikalisme.

Hal itu karena para pemuda dalam perjalanan pencarian jati diri, sehingga keyakinan yang dimiliki mudah goyah. Pelaku radikal adalah korban dari lingkungan yang perekrutannya dengan cara multilifer dari satu orang ke orang lain.

”Banyak sekali pemuda yang terpengaruh paham radikal, menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga terpengaruh mengikuti langkah radikalis untuk memusuhi sesama, termasuk sesama Islam bila beda paham juga di kafirkan,” tegasnya.

Ken menceritakan, doktrin yang diberikan kepada kalangan anak muda yakni dengan meyakinkan bahwa hukum di Indonesia ini keliru karena Pancasila di nilai oleh kelompok radikal bertentangan dengan Al-Quran. Pancasila dianggap sebagai berhala yang harus di tolak, di ingkari dan tinggalkan.

Maka dari itu mereka kelompok radikal itu menganggap orang yang tidak menganut hukum negara Islam akan dianggap kafir dan halal darahnya atau layak untuk dibunuh.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demi Anak Generasi (DAG) Bidang Kontra Radikalisme dan Terorisme ini, Fanatik boleh, tapi jangan berlebihan sebab bila terlalu fanatik dan menganggap diri kita yang paling benar sedang yang lain salah, dirinya yang beriman dan yang lain kafir maka itu sudah berbahaya.

“Kalau kita sudah intoleransi maka itu sudah pintu awal radikal dan ketika sudah radikal maka tinggal poles sedikit bisa menjadi pelaku terorisme,” tegasnya. (Jons)

Beri Komentar

Komentar

loading...

ISI KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Bidang yang harus diisi ditandai *

*


Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /home/pandjiindonesia/public_html/wp-content/themes/pandji/footer.php on line 31

Warning: file_get_contents(http://anti-adblock.adnow.com/aadbAdnow.php?ids=155288): failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /home/pandjiindonesia/public_html/wp-content/themes/pandji/footer.php on line 31