Rabu, 19 Juni 2019
Home > Tak Berkategori > Terkait Korupsi, Dirut PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA) Akhirnya Divonis 1 Tahun Penjara
Terkait Korupsi, Dirut PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA) Akhirnya Divonis 1 Tahun Penjara
Ilustrasi Korupsi (dok.ist)

Terkait Korupsi, Dirut PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA) Akhirnya Divonis 1 Tahun Penjara

Share

Jakarta – Akhirnya pelaku Penggelapan uang milik perusahaan sebesar Rp 7 Miliar, Hartanto Jusman, (56), Dirut PT Bumi Sejahtera Ariya (BSA) divonis 1 tahun penjara, begitu rilis yang diterima Rakyatmerdekanews.com,pada Jumat (15/3).

Dalam dakwaan Hakim, Hartanto Jusman selaku Dirut PT BSA terbukti bersalah telah melanggar pasal 374 dan 372 KUHP, tindak pidana penggelapan uang perusahaan senilai Rp 7 miliar, atas perbuatannya dijatuhi hukuman 1 tahun penjara,oleh Hakim yang dipimpin Dr. I Ketut Sudira, SH, MH, dalam putusannya di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (12/3/2019),kemarin.

Terkait putusan Majelis Hakim tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ayanih, SH yang sebelumnya menuntut hukuman terdakwa selama 3 tahun penjara menyatakan banding.

Upaya banding itu juga ditegaskan oleh Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Kota Tangerang, Aka Kurniawan, SH, MH. “Ada waktu 7 hari untuk pengajuan banding, dan Jaksa Penuntut Umum nya sudah melaporkan kepada saya,” tegas Aka Kurniawan kepada wartawan.

Aka berpandangan, dalam perkara ini bukan hanya persoalan pengalihan dana perusahaan ke rekening pribadi terdakwa sebesar Rp 7 miliar, tapi telah berdampak terhadap perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan.

“Tapi lebih spesifik ada dampak dari perbuatannya yang ditimbulkan oleh terdakwa yang menyebabkan operasional rumah sakit terganggu, karena dana yang ada tidak dapat digunakan untuk operasional seperti membeli obat membayar gaji karyawan dan honor dokter, sehingga kami menyatakan banding,” papar Aka.

Mengenai seberapa ringan atau berat hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa, ia menilai itu berdasarkan pendangan masing-masing penegak hukum. “Karena pandangan Hakim,Jaksa dan Pengacara tentu berbeda-beda,” ucapnya.

Ia menuturkan, tuntutan JPU terhadap terdakwa selama 3 tahun penjara sudah memenuhi rasa keadilan. Dari dana perusahaan yang dialihkan tersebut juga ada bunga bank yang masuk ke rekening pribadi terdakwa dan dinikmatinya.

“Selain itu, unsur untuk menguasai dengan meninggalkan Indonesia selama kurang lebih 7 bulan, dan meninggalkan istrinya yang sedang sakit dalam keadaan koma hingga istrinya meninggal, terdakwa tidak dapat dihubungi oleh saksi pelapor Suherman Mihardja, SH, MH yang juga Direktur dan pemegang saham di PT BSA, adik dari istri terdakwa almarhumah Mareti Miharja yang juga Komisaris dan pemegang saham,” ungkapnya.

Aka mengatakan, alasan terdakwa ke luar negeri karena diancam akan dibunuh sama sekali tidak dapat dibuktikan. Sementara dalam materi perkara tidak ada pasal pengancaman dalam dakwaan JPU.

“Pertimbangan kami dalam menjatuhkan tuntutan dipandang sebagai pidana berdasarkan fakta persidangan, diantaranya dari keterangan beberapa saksi juga keterangan ahli hukum pidana yang tegas menyatakan perbuatan yang dilakukan terdakwa telah memenuhi unsur tindak pidana penggelapan,” jelas Aka.

Sementara itu, saksi pelapor Suherman Mihardja mengungkapkan, selama ke luar negeri terdakwa tidak pernah menghubungi dirinya maupun pegawai perusahaan. “Selama pelariannya terdakwa tidak dapat dihubungi, bahkan saya pernah dua kali mensomasi melalui pesan Whatsapp, namun anehnya menurut keterangan terdakwa dia diancam mau dibunuh, siapa yang mau membunuhnya?, kenapa harus membunuh?,” tanya Suherman heran.

Justru, kata Suherman, seharusnya terdakwa intropeksi diri bagaimana bisa orang yang berusaha di bidang kesehatan dan pendidikan , tapi saat istrinya sakit sudah 2 hari tidak juga dibawa ke rumah sakit hingga mengakibatkan koma.

“Karena kekurangan oksigen istri terdakwa yang juga kakak kandung saya pecah pembuluh darahnya (stroke) , yang membuat saya semakin tak habis pikir adalah terdakwa beralasan tidak membawanya ke rumah sakit karena karma yang harus diterima istrinya, dan terdakwa kabur ke luar negeri untuk menenangkan diri,” ungkapnya.

“Apa pantas tindakan yang dilakukan terdakwa tersebut dengan melupakan istri yang sedang koma di ICU, meninggalkan anak serta perusahaannya, bahkan hingga istrinya meninggal dunia pun dia tidak hadir,” tambah Suherman.

Pengusaha yang juga profesi sebagai Advokat ini menyebutkan, alasan terdakwa ancaman akan dibunuh yang dikemukakan di persidangan yang sama sekali tidak dapat dibuktikan, sama sekali bukan pembenaran atas tindak pidana penggelapan uang perusahaan.

“Saya harus mengeluarkan uang pribadi untuk membayar jasa medis dokter, uang obat serta gaji karyawan, kalau tidak dibantu akan menimbulkan kekacauan bahkan perusahaan terancam bangkrut,” katanya. (Delly M/red)

Beri Komentar

Komentar

loading...

ISI KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Bidang yang harus diisi ditandai *

*