Senin, 25 Maret 2019
Home > Berita Terkini > Dandim 0707/Wonosobo Tinjau Pembuatan Jamban
Dandim 0707/Wonosobo Tinjau Pembuatan Jamban
Dandim 0707/Wonosobo Tinjau Pembuatan Jamban

Dandim 0707/Wonosobo Tinjau Pembuatan Jamban

Share

Wonosobo, pandji-indonesia.com — Permasalahan indeks kemiskinan di Wonosobo masih tinggi, disebabkan salah satunya karena tingkat kesehatan rakyat yang rendah.  Ini dibuktikan dengan jumlah masyarakat yang memiliki jamban di Kabupaten Wonosobo baru 65 %. Dengan adanya permasalahan tersebut Kodim 0707/Wonosobo bekerja sama dengan Yayasan Wahana Bakti Sejatera pimpinan Prof Dr Budileksono dan Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengadakan gerakan pembuatan jamban keluarga.

Salah satu yang dilakukan  adalah meninjau ke lapangan pembuatan jamban keluarga di dusun Mayangsari Siwuran dan Dusun Kopengan Mlandi, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Rabu (09/01/2019).

Dalam peninjauan ini dipimpin langsung oleh Komandan Kodim 0707/Wonosobo Letkol Czi Fauzan Fadli, S.E., didampingi Prof Dr Budi, Koramil Garung, Polsek Garung, Puskesmas, Perangkat desa dan masyarakat setempat.

Letkol Czi Fauzan Fadli, S.E., menyampaikan bahwa Kodim 0707/Wonosobo berupaya menjembatani masalah kemiskinan yang ada, karena Wonosobo menjadi Kabupaten termiskin di Jawa Tengah,  salah satu indikator kepemilikan jamban keluarga. Saat ini di Wonosobo baru ada 65 % dan masih ada kurang lebih 105 ribu kepala keluarga yang belum memiliki jamban,” jelas Dandim.

Alasan TNI ikut berperan aktif dalam pembuatan jamban adalah karena saat ini musuh bangsa Indonesia adalah bagaimana membuat  masyarakat lebih sehat. Dengan sehat maka rakyat akan bisa membela negara ini. Untuk itu dalam rangka pertahanan negara yang diprioritaskan adalah menciptakan masyarakat sehat. Salah satunya membuat jamban keluarga. TNI –AD mempunyai program 1 juta jamban dan saat ini sudah tercapai kurng lebih 700 ribu jamban se Indonesia.

Di Wonosobo saat ini banyak yang menderita penyakit diare dan typus.  Kedua penyakit ini disebabkan banyak faktor, yang utama adalah pola hidup tidak sehat seperti BAB sembarangan.  Dengan BAB sembarangan maka bakteri ekoli akan menyebar ke mana – mana.  Ini bisa dicegah dengan cara BAB tidak sembarangan.  Kotoran yang dibuang ke dalam tanah melalui sepiteng akan diolah oleh tanah menjadi netral.  Sehingga bakteri tidak tersebar kemana mana. Letkol Czi Fauzan Fadli, S.E., menargetkan dari 65 % saat ini diharapkan bisa menjadi 100 % pada tahun 2019.  Hal ini bila mana semua element baik pemerintah dan masyarakat bersama – sama gotong royong membuat jamban.  Saat ini tiap tahunnya hanya bertambah antara 2 – 3 %.  Untuk mencapai 100 % dibutuhkan waktu bisa sampai 30 tahun.  Maka Kodim mengajak agar semua komponen ikut perpartisipasi agar cepat tercapai,” ungkapnya.

Prof Dr Budi dari Yayasan Wahana Bhakti Sejatera menyammpaikan bahwa problem tidak mempunyai jamban menyampaikan banyak orang yang sakit types yang masuk rumah sakit. Ada mitos bahwa masyarakat Wonosobo sulit merubah pola orang  buang sampah sembarangan, mitos tersebut bisa dipatahkan jika semua element masyarakat khususnya para unsur pimpinan bersama – sama menggerakan rakyat untuk hidup sehat.  Ini bisa dibuktikan saat ini di Desa Kopengan Mlandi yang ditargetkan 100 jamban pada kenyataannya bisa sampai 200 jamban dan itu bisa bertambah lagi,” kata Prof Budi.

Supriyanto dari Puskesmas Garung menyampaikan terima kasih kepada TNI yang telah berupaya mensosialisasikan gerakan pembuatan jamban.  Dengan bantuan Babinsa program pembuatan jamban bisa berjalan lancar dan target terpenuhi.(Puji)

Beri Komentar

Komentar

loading...

ISI KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Bidang yang harus diisi ditandai *

*