Minggu, 18 November 2018
Home > Berita Terkini > Jurus Ampuh Jawara Robotika, Belajar di Waktu Subuh
Jurus Ampuh Jawara Robotika, Belajar di Waktu Subuh
Pemenang Robotika Gerrad Verrel Refierly asal Surabaya

Jurus Ampuh Jawara Robotika, Belajar di Waktu Subuh

Share

SURABAYA, pandji-indonesia.com — Pencarian bakat dan minat siswa dapat dilakukan melalui berbagai cara. Diantaranya, dimulai dengan rasa senang terhadap suatu bidang tertentu. Seperti yang dilakukan oleh Wahyu Hendriatmoko dan Rita Kartika terhadap anak laki-lakinya, Gerrad Verrel Refierly. Anak kedua dari pasangan suami istri itu sangat menyenangi segala hal yang berkaitan tentang automotif dan elektronika. “Kami telah mengasah bakat anak kami di bidang automotif dan elektronika melalui mengikutsertakan di Sekolah Robot Indonesia (SRI),” jelas Rita. Minggu, (09/09/2018).

Ibu dua anak itu juga menambahkan peralatan dan bahan untuk membuat robot pun kami sediakan hingga mengikutkan Gery –panggilan akrab Gerrad- ke berbagai lomba yang berhubungan erat dengan robot.

“Sejak di Sekolah Dasar (SD) kelas 3 sudah terttarik dan sangat menyukai tentang robot,” ucap siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 5 Surabaya itu. Cowok yang lahir di Surabaya, 5 September 2005 itu telah mengikuti hampir 50-an lomba robot hingga sekarang. Sejak berita ini diturunkan, Gery sedang mengikuti lomba International Islamic School Robot Olympiad (IISRO) di Malaysia. Lomba yang berakhir (9/9) itu telah sering diikuti cowok yang hobby main drone itu sejak di SD. Pada lomba itu, Gery mengikuti empat kategori lomba yakni, robot soccer, robot sumo, robot drone, dan robot underwater. Bersama dengan ibunya, Gery membawa kreasi keempat robot itu untuk mengikuti keempat kategori lomba tersebut. IISRO kali pertama yang diikutinya di Yogyakarta dan menang juara kedua untuk kategori lomba transporter junior. “Kategori lomba itu dengan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya,” ucap siswa yang tinggal di jalan Tidar, Surabaya itu. Selain itu, pada lomba itu juga memenangkan lomba robot dengan kategori rescue di posisi ketiga. Pada kategori rescue itu, robot yang dibuatnya harus dapat mengambil bola lalu diletakkan di tempat yang telah ditentukan dan harus melewati rintangan berupa tanjakan.

Diantara banyak lomba yang diikutinya, lomba yang paling berkesan yaitu ketika Lomba Robot Nasional (Baronas) yang digelar di gedung Robotika Institut Teknologi Surabaya (ITS). Pada lomba itu, dia melawan peserta dari semua umur atau dikenal open kategori untuk lomba robot drone racing. “Waktu lomba itu mengendalikan drone menggunakan Virtual Reality (VR) dan alhamdulillah juara pertama,” ucap cowok yang sangat memfavoritkan robot drone itu. Faktor yang menjadikan Gery meraih posisi utama di lomba itu karena kecepatan drone yang dikenadalikan dengan mulus melewati rintangan yang disediakan panitia. “Tiap minggu sore, Gery berlatih di tugu pahlawan bersama anggota Surabaya Drone Community (SDC),” kata Wahyu, Ayah Gery.

Pengalaman lomba yang diikuti cowok yang tergabung dalam anggota SDC itu telah menempa dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Hingga lomba ke berbagai negara mulai dari Singapura hingga ke Jepang telah dialaminya meski tanpa orang tua dan hanya didampingi oleh pelatihnya saja. “Mulai pukul empat sore hingga pukul delapan malam, bersama pelatihnya dia berlatih membuat robot dan terus mengujicoba hasil robot buatannya meski ada atau pun tidak ada lomba yang diikutinya,” ujar Rita, Ibu yang selalu mensupport anaknya. Hingga tahapan cara membuat robot pun sudah dia kuasai dengan baik mulai dari merakit body robot, memasang motor body, hingga memprogram software sesuai penggunaan robot yang akan dibuatnya. “Paling sulit membuat robot untuk kategori rescue karena harus membuat software-nya secara manual,” ucap Gery. Dia menambahkan, biaya membuat satu robot yang paling mahal yaitu untuk robot sumo.

Meski Gery telah banyak mengikuti lomba di berbagai negara dan padatnya latihan membuat robot, ia tetap menyempatkan untuk belajar untuk pelajaran di sekolahnya. “Sebelum subuh mulai pukul setengah empat sore hingga adzan subuh dan melaksanakan sholat subuh, Gery belajar untuk persiapan di sekolah,” ujar Wahyu. Ayahnya menambahkan seusai sholat subuh, Gery masih terus belajar, mulai dari mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah hingga mengulangi materi-materi pelajaran yang telah diajarkan ke gurunya terus dilakoninya hingga menjelang mau berangkat sekolah agar tidak tertinggal pelajaran di sekolah meski menjadi juara dalam mengasah bakatnya di bidang robotika. (rls/red)

Beri Komentar

Komentar

303 Total View | 6 viewer hari ini
loading...

ISI KOMENTAR

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Bidang yang harus diisi ditandai *

*

Website Malware Scan
Share